Belajar filsafat itu mengasyikkan. Saya pernah menghabiskan waktu secara formal selama hampir 7 tahun ~diselingi cuti, kerja dan main, untuk menyelesaikan pendidikan di bidang itu. Banyak bacaan yang harus dikebut dan ditelan. Tapi sama halnya dengan sastra, seringkali orang fokus kepada hasil penulisan dan penokohan secara deskriptif. Sangat sedikit yang mencoba menggali insights tentang si penulis sebagai subyek. Lebih kepada post-writings tentang hasil karya.
Misalnya saja Pramoedya Ananata Toer, yang secara ideologis menganut realisme sosialis sehingga bobot
karya tulisannya secara konteks sudah pasti politik, bukan sekedar novel atau roman seperti saat ini. Atau Chairil Anwar yang memberi ilham poster berupa tulisan Ajoeh Boeng! diambil dari sapaan para pelaku prostitusi kepada para pelanggan ~termasuk dirinya. Apakah sebuah karya filsafat juga lahir dan mencerminkan gagasan yang sejalan, atau bertolak belakang dengan penulisnya? Itu yang menarik.
Sama halnya dengan Karl Marx dan Friedrich Engels, dynamic duo bapak sosialisme itu. Marx menikahi Jenny von Westphalen, seorang wanita bangsawan Prusia, tetapi kehidupannya jauh dari harmonis. Jenny sering menderita karena kemiskinan akibat kegagalan Marx dalam mencari nafkah yang stabil. Mereka menjual harta bendanya seperti kursi dan lemari malam hari, supaya nggak ketahuan oleh tetangga. Dari tujuh anaknya, hanya tiga yang selamat hingga dewasa, sementara yang lainnya meninggal akibat
kondisi hidup yang buruk. Dua anak perempuannya bunuh diri, kemungkinan besar karena kondisi hidup yang menyedihkan dan ketidakstabilan keluarga.
"The life of man, solitary, poor, nasty, brutish, and short." ~Thomas Hobbes
Marx juga jarang mandi, hidupnya sangat tidak teratur, dan sering mengabaikan kebersihan diri. Ia mengalami penyakit kulit kronis, diduga karena gaya hidupnya yang tidak higienis. Kebiasaan ini membuatnya sering dijauhi oleh banyak orang, kecuali lingkaran kecil intelektualnya. Marx memiliki hubungan gelap dengan pembantunya, Helene Demuth, yang telah bekerja untuk keluarga Marx sejak muda. Dari hubungan ini, Helene melahirkan seorang anak laki-laki bernama Frederick Demuth, tetapi Marx tidak pernah mengakui. Untuk menjaga reputasi Marx, Engels yang sudah sekarat mengaku sebagai ayah anak itu sebelum meninggal.
Nah, Engels sendiri adalah seorang asristokrat kaya, anak pemilik pabrik. Ia sering berpesta, minum alkohol berlebihan, dan memiliki banyak hubungan di luar nikah. Engels selalu menjadi penyelamat Marx dalam berbagai kesempatan termasuk urusan finansial. Marx sebenarnya tidak menyelesaikan das Kapital meski sudah dikejar oleh editor. Engels yang membantu menyelesaikan tulisan itu. Mereka menulis tentang teori kelas pekerja, keadilan sosial dan moralitas buruh tapi kontradiktif dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Sama halnya dengan filsuf lain yang juga lahir dan hidup dengan penuh drama dan skandal. Misal Jean-Jacques Rousseau hidup ngegembel dan jadi piaraan Madame de Warens, seorang wanita kaya. Rousseau menulis tentang moral dan pendidikan anak, tapi meninggalkan kelima anaknya di panti asuhan. Nietzsche yang jatuh cinta pada Lou Andreas-Salomé, tetapi cintanya ditolak mentah-mentah. Ia menderita penyakit syphilis yang membuatnya sakit fisik dan mental di akhir hidupnya. Schopenhauer yang membenci perempuan dan percaya bahwa kehidupan adalah penderitaan tanpa akhir. Dia menghabiskan hidupnya sendirian dengan anjing-anjingnya karena menganggap manusia terlalu menjengkelkan untuk jadi teman.
Foucault, seorang homoseksual yanghidup di tengah-tengah komunitas BDSM di San Francisco pada tahun 1970-an, pecandu dan meninggal karena AIDS. Kierkegaard yang bertunangan dengan Regina
Olsen, tetapi secara misterius memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas, lalu menderita kesepian sepanjang hidupnya. Ia menulis soal patah hati, depresi, dan meratapi keputusannya meninggalkan cinta sejatinya. Albert Camus, Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir yang demen gonta ganti pasangan
dalam sirkel mereka. Martin Heidegger yang pernah bergabung dengan Partai Nazi dan mendukung Hitler, meskipun kemudian ia berusaha menjauh dari keterlibatannya. Dia memiliki hubungan gelap dengan Hannah Arendt, seorang filsuf Yahudi yang ironisnya harus melarikan diri dari Nazi.
Lantas apakah kemudian filsafat keliru lahir dari rasa sakit, penderitaan dan kelakuan? Tentu tidak. Itu adalah proses yang sangat manusiawi. Mereka, dan kita hanyalah manusia biasa. Hanya saja, memahami
filsafat tidaklah cukup berdasarkan kajian tekstual melainkan juga paham konteks. Tujuannya adalah melihat dan mencerna lebih dalam bahwa pikiran manusia ~betapapun itu paradoks dan sarat kontroversi adalah sebuah pencapaian yang tidak mudah. Terlebih bila dalam perjalanan sejarahnya mempengaruhi
perkembangan peradaban manusia yang lebih luas dan mendalam. (end)